Luka lama tentang ayah
Membicarakan perkara perasaan keluarga memang tidak pernah menjadi urusan mudah.
Pukul 6 malam tadi, aku membantu ibu memasak makan malam. Seperti biasa, waktu memasak selalu kami isi dengan obrolan, ringan maupun berat. Obrolan kami ringan saja mulanya, tapi, makin lama, tiba-tiba muncul obrolan tentang ayah. Aku mulai meneguk ludah, waduh, sudah mulai offside.
Selama ini, aku tidak pernah terbuka tentang perasaan pada keluargaku. Lebih mudah disimpan sendiri menurutku. Toh aku sudah menginjak kepala dua juga, sudah bisa mengurus diriku sendiri.
Tapi aku masih memiliki adik perempuan, umurnya 12 tahun. Aku tidak mau dia merasakan luka yang sama sepertiku. Yasudah lah, tak apa diobrolkan. Awalnya, aku sedikit terbata-bata. Takut. Takut tiba-tiba ibu marah. Takut tiba-tiba ayah datang. Takut tiba-tiba air mataku jatuh.
Akhirnya aku mulai bercerita tentang perasaanku. Tentang sebagian luka yang selama ini dipendam. Tentang bagaimana menurutku ayah tidak pernah menunjukkan cintanya. Tentang aku yang selama ini tidak pernah merasa dicintai, tidak pernah diberi afeksi. Tentang bagaimana aku berharap ayah akan memperlakukanku seperti sosok ayah yang ku harapkan, yang selalu menggunakan panggilan sayang itu, yang suka memberi belaian dan pelukan, yang selalu berkata betapa ia mencintai anak-anaknya.
Ibu sempat menyela, berkata bahwa perasaan cinta ayah sebesar yang aku harapkan, meski tak pernah ia tunjukkan. Aku tau ibu benar, ayah memang orang yang lebih menunjukkan perasaannya dengan tindakan dibandingkan dengan kata. "Tapi bu, sebagai anak-anak saat itu, tau darimana aku dicintai jika tidak ditunjukkan dengan kata - kata?", ujarku.
Ibu terdiam. Mungkin ibu menganggap aku ada benarnya juga. Ibu kembali bertanya, "apakah luka-luka itu masih ada? Apa dampak yang kamu rasakan nak dari masa lalu itu?".
Mataku mulai terasa panas. Aku berpikir, memilih hal-hal mana yang harus kuceritakan. Akhirnya, setelah beberapa tahun terakhir aku menyimpan hal ini rapat-rapat dari orangtuaku, aku mengungkapkannya. "Aku takut untuk menikah dan punya anak, bu. Aku jadi tidak percaya dengan laki-laki. Setiap ada yang berusaha mendekat padaku, aku selalu menjauh. Aku takut. Aku tidak percaya. Mulai terbentuk prinsip itu perlahan-lahan dibalik alam bawah sadarku. Daripada merasa tidak pernah dicintai lagi dari keluarga, lebih baik tidak usah membangun keluarga sama sekali. Aku sudah berhenti berharap dan percaya pada perasaan cinta, bu". Tanganku sedikit bergetar saat mengucapkannya, tak berani bertatapan dengan ibu sama sekali.
Ibu terkejut, terdiam. Tak pernah menyangka bahwa trauma anak perempuannya berasal dari suaminya sendiri. Mungkin ibu bingung harus bereaksi bagaimana, ia hanya berkata beritahu saja jika aku butuh pergi ke psikolog. Aku hanya mengangguk, bukan jawaban yang aku harapkan tapi setidaknya ibu tidak menceramahiku seperti biasa.
Tidak ada lagi obrolan, kami melanjutkan masak dalam diam. Hening. Aduh, suasana jadi sedikit tidak nyaman. Suara pisau memotong jadi terasa begitu nyaring. Air mataku yang sedari tadi kutahan tak sengaja keluar. Segera kuusap, takut ketahuan ibu.
Komentar
Posting Komentar