Luka lama tentang ayah
Membicarakan perkara perasaan keluarga memang tidak pernah menjadi urusan mudah. Pukul 6 malam tadi, aku membantu ibu memasak makan malam. Seperti biasa, waktu memasak selalu kami isi dengan obrolan, ringan maupun berat. Obrolan kami ringan saja mulanya, tapi, makin lama, tiba-tiba muncul obrolan tentang ayah. Aku mulai meneguk ludah, waduh, sudah mulai offside. Selama ini, aku tidak pernah terbuka tentang perasaan pada keluargaku. Lebih mudah disimpan sendiri menurutku. Toh aku sudah menginjak kepala dua juga, sudah bisa mengurus diriku sendiri. Tapi aku masih memiliki adik perempuan, umurnya 12 tahun. Aku tidak mau dia merasakan luka yang sama sepertiku. Yasudah lah, tak apa diobrolkan. Awalnya, aku sedikit terbata-bata. Takut. Takut tiba-tiba ibu marah. Takut tiba-tiba ayah datang. Takut tiba-tiba air mataku jatuh. Akhirnya aku mulai bercerita tentang perasaanku. Tentang sebagian luka yang selama ini dipendam. Tentang bagaimana menurutku ayah tidak pernah menunjukkan cintanya. Tenta...